Penerjemahan merupakan proses yang lebih kompleks daripada sekadar mengganti kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Seorang penerjemah perlu memahami makna, konteks, struktur bahasa, budaya, tujuan komunikasi, serta karakteristik pembaca yang akan menerima hasil terjemahan.
Dalam studi penerjemahan (Translation Studies), berbagai teori dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana proses penerjemahan berlangsung, bagaimana kesepadanan makna dapat dicapai, dan bagaimana penerjemah mengambil keputusan ketika menghadapi perbedaan antara bahasa sumber dan bahasa sasaran.
Teori penerjemahan memiliki peran penting dalam penerjemahan teks sastra, akademik, jurnalistik, teknis, hingga dokumen hukum dan dokumen resmi. Pemahaman terhadap teori membantu penerjemah memilih pendekatan yang sesuai dengan karakteristik teks dan kebutuhan pengguna.
Artikel ini membahas pengertian teori penerjemahan, perkembangan sejarahnya, teori-teori utama yang dikemukakan para ahli, serta penerapannya dalam praktik profesional.
1. Apa Itu Teori Penerjemahan?
Teori penerjemahan adalah kumpulan konsep, prinsip, dan kerangka pemikiran yang digunakan untuk menjelaskan, menganalisis, serta mengevaluasi proses dan hasil penerjemahan.
Dalam bahasa Inggris, bidang ini dikenal sebagai translation theory dan merupakan bagian dari disiplin ilmu yang lebih luas, yaitu Translation Studies atau studi penerjemahan.
Menurut perkembangan studi penerjemahan modern, penerjemahan tidak hanya berkaitan dengan kesepadanan kata dan struktur kalimat. Proses ini juga melibatkan konteks sosial, budaya, tujuan komunikasi, karakteristik pembaca, dan situasi penggunaan teks hasil terjemahan.
Jeremy Munday, Sara Ramos Pinto, dan Jacob Blakesley membahas beragam pendekatan tersebut dalam buku Introducing Translation Studies: Theories and Applications. Buku ini mencakup teori kesepadanan, pendekatan fungsional, analisis wacana, pendekatan budaya, etika, serta perkembangan teknologi penerjemahan.
Dengan demikian, teori penerjemahan dapat dipahami sebagai landasan untuk menjawab beberapa pertanyaan penting:
- Bagaimana makna dalam bahasa sumber dipertahankan dalam bahasa sasaran?
- Kapan penerjemah perlu mengikuti struktur teks asli dan kapan struktur tersebut perlu diubah?
- Bagaimana konteks budaya memengaruhi pilihan kata dan ungkapan?
- Bagaimana tujuan penerjemahan menentukan pendekatan yang digunakan?
- Bagaimana kualitas dan ketepatan hasil terjemahan dapat dievaluasi?
Contoh sederhana
Perhatikan kalimat bahasa Inggris berikut:
The agreement shall enter into force on the date of signature.
Terjemahan bahasa Indonesia yang sesuai dengan konteks hukum dapat berupa:
“Perjanjian ini mulai berlaku pada tanggal penandatanganan.”
Penerjemahan tersebut tidak dilakukan dengan mengganti setiap kata secara mekanis. Penerjemah perlu memahami fungsi frasa enter into force, makna modal shall dalam konteks hukum, serta konvensi bahasa Indonesia yang digunakan dalam dokumen perjanjian.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa pemahaman teori dan konteks dapat membantu penerjemah mengambil keputusan yang lebih tepat. Namun, pilihan akhir tetap harus mempertimbangkan keseluruhan dokumen, definisi istilah, dan ketentuan yang berlaku dalam konteks penggunaannya.
2. Sejarah Perkembangan Teori Penerjemahan

Praktik penerjemahan telah berlangsung sejak zaman kuno, terutama untuk keperluan perdagangan, administrasi, agama, pendidikan, dan hubungan antarmasyarakat. Pemikiran mengenai cara menerjemahkan juga berkembang jauh sebelum studi penerjemahan menjadi disiplin akademis modern.
Berikut gambaran ringkas perkembangannya.
2.1. Perdebatan awal: penerjemahan kata demi kata dan makna
Salah satu perdebatan klasik dalam penerjemahan adalah apakah penerjemah sebaiknya mengikuti kata-kata teks sumber secara ketat atau menyampaikan maknanya dengan ungkapan yang lebih alami dalam bahasa sasaran.
Perdebatan ini sering dikaitkan dengan tradisi penerjemahan pada zaman Romawi, termasuk pemikiran Cicero dan Horace. Dalam praktiknya, pendekatan yang dipilih bergantung pada tujuan penerjemahan, jenis teks, dan konvensi bahasa yang digunakan.
Penerjemahan yang sangat dekat dengan struktur asli dapat berguna ketika bentuk atau susunan teks perlu dianalisis. Sebaliknya, pendekatan yang lebih berorientasi pada makna dapat membantu menghasilkan teks yang mudah dipahami oleh pembaca sasaran.
Keduanya tidak selalu merupakan pilihan yang saling meniadakan. Penerjemah dapat mempertahankan unsur tertentu dari teks asli sambil menyesuaikan unsur lainnya.
2.2. Abad ke-20: perkembangan pendekatan linguistik
Pada abad ke-20, teori penerjemahan berkembang dengan memanfaatkan ilmu linguistik, semantik, dan analisis bahasa.
Para ahli mulai membahas hubungan antara bahasa sumber dan bahasa sasaran melalui konsep seperti kesepadanan, struktur bahasa, makna, dan pergeseran dalam penerjemahan.
Salah satu tokoh penting dalam perkembangan ini adalah J. C. Catford melalui bukunya A Linguistic Theory of Translation yang diterbitkan pada 1965. Catford membahas penerjemahan dari perspektif linguistik, termasuk konsep translation shifts atau pergeseran penerjemahan.
Pada periode yang sama, Eugene A. Nida mengembangkan pembahasan mengenai kesepadanan formal dan dinamis, terutama melalui penelitian dan praktik penerjemahan Alkitab.
2.3. Perkembangan pendekatan fungsional
Pada dekade 1970-an dan 1980-an, pendekatan fungsional semakin berpengaruh dalam studi penerjemahan.
Salah satu perkembangan penting adalah teori Skopos yang dikaitkan dengan Hans J. Vermeer. Kata skopos berasal dari bahasa Yunani dan berarti tujuan.
Dalam pendekatan ini, tujuan penerjemahan dan kebutuhan pembaca sasaran menjadi pertimbangan utama dalam menentukan strategi penerjemahan. Penerjemah perlu memahami untuk apa teks diterjemahkan, siapa penerimanya, dan dalam situasi apa teks tersebut akan digunakan.
Pendekatan fungsional sangat berguna untuk menjelaskan mengapa satu teks sumber dapat menghasilkan terjemahan yang berbeda ketika tujuan dan audiensnya berbeda.
2.4. Pendekatan budaya, sosial, dan teknologi
Perkembangan studi penerjemahan selanjutnya memperluas perhatian dari struktur bahasa menuju budaya, ideologi, norma sosial, identitas, dan posisi penerjemah dalam masyarakat.
Pada era digital, bidang ini juga mencakup penerjemahan berbantuan komputer, penerjemahan mesin, penerjemahan audiovisual, serta penggunaan kecerdasan buatan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teori penerjemahan bukanlah kumpulan aturan yang statis. Teori terus digunakan, dikaji ulang, dan dikembangkan untuk menjelaskan persoalan penerjemahan yang semakin beragam.
3. Tujuan dan Fungsi Teori Penerjemahan
Teori penerjemahan memiliki beberapa fungsi penting bagi mahasiswa, peneliti, penerjemah profesional, dan pengguna jasa penerjemahan.
3.1. Menjelaskan proses pengambilan keputusan
Penerjemah sering menghadapi beberapa pilihan yang sama-sama mungkin secara bahasa. Teori membantu menjelaskan alasan di balik pemilihan suatu padanan.
Sebagai contoh, istilah hukum tertentu mungkin memiliki padanan leksikal dalam bahasa sasaran, tetapi padanan tersebut belum tentu memiliki fungsi atau konsekuensi hukum yang sama. Penerjemah perlu mempertimbangkan konteks sebelum menentukan pilihan.
3.2. Membantu mempertahankan makna
Teori penerjemahan membantu penerjemah membedakan makna leksikal, makna kontekstual, maksud penutur, dan fungsi suatu teks.
Tujuannya bukan selalu mempertahankan bentuk kalimat asli, melainkan menyampaikan pesan secara tepat sesuai kebutuhan penerjemahan.
3.3. Menentukan pendekatan sesuai tujuan
Teks akademik, kontrak, berita, karya sastra, dan materi pemasaran memiliki kebutuhan yang berbeda.
Teori membantu penerjemah memahami kapan ketepatan terminologi perlu diprioritaskan, kapan keluwesan bahasa diperlukan, dan kapan fungsi komunikasi menjadi pertimbangan utama.
3.4. Menjadi landasan evaluasi kualitas
Teori dapat digunakan sebagai kerangka untuk menilai aspek tertentu dalam hasil terjemahan, misalnya kesepadanan makna, ketepatan istilah, keterbacaan, konsistensi, dan kesesuaian dengan tujuan.
Namun, tidak ada satu teori yang secara otomatis menjamin bahwa sebuah terjemahan berkualitas. Evaluasi tetap membutuhkan kriteria yang sesuai dengan jenis teks dan konteks penggunaannya.
4. Jenis-Jenis Teori Penerjemahan
Tidak ada satu klasifikasi yang digunakan secara universal untuk seluruh teori penerjemahan. Para ahli mengelompokkan teori berdasarkan pendekatan, objek kajian, dan permasalahan yang ingin dijelaskan.
Berikut beberapa pendekatan utama yang penting untuk dipahami.
4.1. Teori kesepadanan Eugene Nida
Eugene A. Nida merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan teori penerjemahan modern. Dalam Toward a Science of Translating (1964), Nida membahas prinsip korespondensi dan kesepadanan dalam penerjemahan.
Dua konsep yang terkenal adalah:
Formal equivalence (kesepadanan formal)
Pendekatan ini memberikan perhatian besar pada pesan teks sumber, termasuk bentuk dan isi. Struktur, istilah, atau unsur tertentu dalam teks asli dipertahankan sejauh memungkinkan dan sesuai dengan tujuan penerjemahan.
Dynamic equivalence (kesepadanan dinamis)
Pendekatan ini menekankan hubungan antara pesan teks dan respons pembaca sasaran. Terjemahan diarahkan agar dapat menyampaikan pesan secara wajar dan dapat dipahami oleh penerima dalam konteks bahasa sasaran.
Nida kemudian lebih memilih istilah functional equivalence dalam perkembangan pemikirannya.
Contoh penerapan
Ungkapan bahasa Inggris It’s raining cats and dogs tidak tepat jika diterjemahkan secara harfiah menjadi “Hujan kucing dan anjing”.
Jika konteksnya adalah percakapan sehari-hari, terjemahan “Hujan turun sangat deras” dapat menyampaikan maksud ungkapan tersebut dengan lebih alami.
Contoh ini menggambarkan perbedaan antara mempertahankan bentuk ungkapan dan menyampaikan maknanya. Pilihan terjemahan tetap bergantung pada konteks dan fungsi teks.
Kapan pendekatan ini berguna?
Pendekatan Nida membantu menjelaskan persoalan kesepadanan, khususnya ketika penerjemah harus mempertimbangkan hubungan antara pesan teks sumber dan pemahaman pembaca sasaran.
Namun, konsep ini tidak boleh disederhanakan menjadi aturan bahwa semua teks harus dibuat lebih bebas. Jenis teks, kebutuhan pembaca, dan fungsi dokumen tetap menentukan pilihan yang tepat.
Peter Newmark mengembangkan dua pendekatan yang dikenal sebagai semantic translation dan communicative translation.
Semantic translation (penerjemahan semantis)
Pendekatan ini berusaha mempertahankan makna kontekstual teks sumber dengan memperhatikan bentuk dan karakteristik bahasa aslinya sejauh memungkinkan.
Pendekatan semantis dapat berguna untuk teks yang membutuhkan perhatian tinggi terhadap nuansa makna dan pilihan kata penulis.
Communicative translation (penerjemahan komunikatif)
Pendekatan ini berorientasi pada penyampaian pesan kepada pembaca sasaran secara jelas dan sesuai dengan konvensi bahasa yang digunakan.
Pendekatan komunikatif dapat berguna untuk informasi publik, instruksi, dan teks lain yang menuntut pemahaman pembaca secara langsung.
Contoh penerapan
Kalimat:
Please refrain from smoking in this area.
Terjemahan komunikatif yang sesuai untuk pemberitahuan umum adalah:
“Dilarang merokok di area ini.”
Terjemahan tersebut tidak mengikuti susunan kata bahasa Inggris secara persis, tetapi menyampaikan fungsi larangan dengan bentuk yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia.
Sebaliknya, dalam analisis linguistik, penerjemah mungkin perlu mempertahankan struktur sumber atau memberikan penjelasan tambahan.
Pendekatan semantis dan komunikatif bukan dua kategori mutlak yang harus dipilih secara eksklusif untuk seluruh dokumen. Dalam satu proyek, penerjemah dapat menerapkan pertimbangan yang berbeda pada bagian teks yang berbeda.
4.3. Teori pergeseran penerjemahan J. C. Catford
Dalam A Linguistic Theory of Translation (1965), J. C. Catford membahas penerjemahan sebagai persoalan linguistik dan mengembangkan konsep translation shifts.
Pergeseran penerjemahan terjadi ketika hubungan formal antara teks sumber dan teks sasaran tidak dipertahankan secara langsung. Catford antara lain membahas pergeseran tingkat (level shifts) dan pergeseran kategori (category shifts), yang mencakup pergeseran struktur, kelas kata, unit, dan sistem.
Contoh sederhana
Bahasa Inggris:
She is a teacher.
Bahasa Indonesia:
“Dia seorang guru.”
Kedua kalimat menyampaikan informasi yang sepadan, tetapi struktur gramatikalnya tidak identik. Bahasa Indonesia tidak memerlukan bentuk kopula is dalam konstruksi tersebut.
Contoh ini merupakan ilustrasi perbedaan struktur bahasa, bukan klasifikasi lengkap atas jenis pergeseran menurut Catford.
Kegunaan teori Catford
Pendekatan ini membantu mahasiswa dan peneliti mengidentifikasi perbedaan sistem bahasa serta menganalisis perubahan struktur dalam hasil terjemahan.
Dalam praktik profesional, analisis pergeseran juga dapat membantu menjelaskan mengapa terjemahan yang baik tidak selalu mengikuti susunan gramatikal bahasa sumber.
4.4. Teori Skopos Hans J. Vermeer
Teori Skopos merupakan pendekatan fungsional yang menempatkan tujuan penerjemahan sebagai pertimbangan penting dalam menentukan tindakan penerjemah.
Menurut Vermeer, penerjemahan merupakan bentuk tindakan yang memiliki tujuan dan ditujukan kepada penerima tertentu. Karena itu, penerjemah perlu memahami fungsi teks hasil terjemahan, konteks penggunaannya, serta kebutuhan pihak yang akan menggunakannya.
Contoh penerapan
Sebuah perusahaan meminta penerjemahan dokumen presentasi produk dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.
Jika dokumen tersebut ditujukan kepada calon konsumen, penerjemah perlu mempertimbangkan kejelasan pesan, keterbacaan, dan konvensi komunikasi pemasaran.
Namun, jika yang diterjemahkan adalah kontrak penjualan yang berkaitan dengan presentasi tersebut, kebutuhan penerjemahannya berbeda. Definisi, kewajiban, syarat, dan ketentuan dalam kontrak harus ditangani dengan sangat cermat.
Tujuan penerjemahan membantu menentukan pendekatan, tetapi tidak memberikan kebebasan untuk mengubah fakta, menghilangkan kewajiban, atau menggeser makna hukum.
Kapan teori Skopos berguna?
Teori ini membantu penerjemah menjawab pertanyaan seperti:
- Siapa yang akan membaca teks hasil terjemahan?
- Untuk keperluan apa terjemahan digunakan?
- Apakah teks akan dipublikasikan, diajukan kepada instansi, atau digunakan untuk komunikasi internal?
- Apakah terdapat batasan yang ditetapkan oleh pemilik dokumen atau lembaga penerima?
Pertanyaan tersebut sangat penting ketika penerjemah harus menentukan bentuk, gaya, dan strategi penerjemahan.
Lucía Molina dan Amparo Hurtado Albir membahas teknik penerjemahan dalam artikel ilmiah Translation Techniques Revisited: A Dynamic and Functionalist Approach yang diterbitkan pada 2002 di jurnal Meta.
Mereka menekankan pentingnya membedakan teknik penerjemahan dari metode dan strategi penerjemahan. Teknik digunakan sebagai instrumen untuk menganalisis bagaimana hubungan antara teks sumber dan teks sasaran diwujudkan pada bagian teks tertentu.
Beberapa teknik yang dikenal dalam klasifikasi mereka antara lain:
- Peminjaman (borrowing): menggunakan kata dari bahasa sumber dalam bahasa sasaran.
- Kalke (calque): menerjemahkan unsur pembentuk suatu ungkapan atau istilah secara langsung.
- Terjemahan harfiah (literal translation): menerjemahkan dengan mempertahankan korespondensi kata atau struktur sejauh sesuai.
- Transposisi (transposition): mengubah kategori gramatikal.
- Modulasi (modulation): mengubah sudut pandang atau cara konseptualisasi suatu pesan.
- Adaptasi (adaptation): mengganti unsur budaya tertentu dengan unsur yang lebih sesuai bagi budaya sasaran, jika fungsi dan konteksnya memungkinkan.
- Amplifikasi (amplification): menambahkan unsur informasi atau penjelasan yang diperlukan untuk menyampaikan pesan secara memadai.
Daftar tersebut hanya memuat beberapa contoh teknik, bukan keseluruhan taksonomi.
Contoh penerapan
Dalam konteks tertentu, istilah online banking dapat dipertahankan sebagai istilah bahasa Inggris atau diterjemahkan menjadi “perbankan daring”.
Pilihan tersebut bergantung pada konvensi bidang, kebijakan terminologi, pembaca, dan tujuan dokumen. Penerjemah tidak semestinya memilih teknik hanya karena teknik tersebut tersedia dalam daftar.
Untuk memahami klasifikasi secara lebih lengkap, baca artikel ilmiah Molina dan Hurtado Albir melalui portal penelitian Universitat Autònoma de Barcelona.
4.6. Pendekatan budaya dan norma penerjemahan
Pendekatan budaya dan sosiologis melihat penerjemahan sebagai kegiatan yang berlangsung dalam lingkungan sosial, historis, dan budaya tertentu.
Gideon Toury, misalnya, mengembangkan kajian tentang norma penerjemahan. Pendekatan ini membantu menjelaskan bagaimana kebiasaan, ekspektasi, dan konvensi dalam suatu lingkungan memengaruhi pilihan penerjemah.
Sementara itu, pendekatan budaya yang berkembang dalam studi penerjemahan memperhatikan hubungan antara bahasa, ideologi, identitas, kekuasaan, dan representasi budaya.
Dalam praktiknya, pendekatan ini membantu menjelaskan mengapa suatu ungkapan, gelar, istilah kelembagaan, atau referensi budaya tidak selalu dapat dipindahkan begitu saja ke bahasa lain.
Untuk dokumen resmi, pemahaman budaya tetap harus disertai pemeriksaan fakta dan terminologi. Penerjemah tidak boleh mengganti nama lembaga, jabatan, atau konsep hukum hanya karena terdapat istilah yang tampak serupa dalam bahasa sasaran.
Ringkasan perbandingan teori penerjemahan
| Tokoh atau pendekatan | Fokus utama | Contoh penerapan |
|---|---|---|
| Eugene Nida | Kesepadanan formal dan dinamis/fungsional | Menilai hubungan pesan dengan pembaca sasaran |
| Peter Newmark | Penerjemahan semantis dan komunikatif | Menyesuaikan pendekatan dengan karakteristik teks |
| J. C. Catford | Pergeseran linguistik | Menganalisis perubahan struktur bahasa |
| Hans J. Vermeer | Tujuan penerjemahan | Menentukan pendekatan berdasarkan fungsi teks |
| Molina dan Hurtado Albir | Teknik penerjemahan | Menganalisis keputusan pada bagian teks tertentu |
| Gideon Toury | Norma penerjemahan | Mengkaji pengaruh norma sosial dan budaya |
Tabel tersebut merupakan ringkasan orientatif. Setiap teori mempunyai asumsi, terminologi, dan perkembangan pemikiran yang lebih luas daripada uraian singkat di atas.
5. Perbedaan Teori, Metode, Strategi, dan Teknik Penerjemahan
Istilah teori, metode, strategi, dan teknik penerjemahan sering digunakan secara bergantian, padahal masing-masing mempunyai fungsi konseptual yang berbeda.
5.1. Teori penerjemahan
Teori menyediakan kerangka konseptual untuk menjelaskan dan menganalisis proses atau hasil penerjemahan.
Contoh: teori Skopos membantu menjelaskan peran tujuan penerjemahan dalam menentukan pendekatan yang digunakan.
5.2. Metode penerjemahan
Metode berkaitan dengan pendekatan umum yang digunakan untuk menerjemahkan suatu teks secara keseluruhan atau bagian besar teks.
Pilihan metode dapat mencerminkan orientasi terhadap teks sumber, pembaca sasaran, makna, atau fungsi komunikasi.
5.3. Strategi penerjemahan
Strategi berkaitan dengan cara penerjemah menangani masalah yang muncul selama proses penerjemahan.
Misalnya, ketika menemukan istilah yang tidak memiliki padanan langsung, penerjemah dapat menelusuri referensi, memeriksa dokumen paralel, berkonsultasi dengan ahli bidang, atau menggunakan penjelasan kontekstual.
5.4. Teknik penerjemahan
Teknik merupakan cara tertentu yang dapat diidentifikasi pada hasil penerjemahan, seperti peminjaman, transposisi, atau modulasi.
Perbedaan istilah ini penting karena metode, strategi, dan teknik tidak menjawab pertanyaan yang sama.
Molina dan Hurtado Albir secara khusus menyoroti perlunya membedakan teknik dari metode dan strategi agar analisis penerjemahan menjadi lebih konsisten.
6. Contoh Penerapan Teori Penerjemahan
Untuk memahami manfaat teori, kita dapat melihat bagaimana pendekatan yang berbeda membantu menganalisis teks yang sama.
Perhatikan kalimat berikut:
The parties shall comply with all applicable laws and regulations.
Terjemahan ilustratif:
“Para pihak wajib mematuhi seluruh peraturan perundang-undangan yang berlaku.”
Kalimat ini merupakan contoh hipotetis untuk tujuan pembelajaran, bukan kutipan dari kontrak tertentu.
6.1. Analisis berdasarkan kesepadanan
Penerjemah perlu memahami bahwa the parties mengacu pada pihak-pihak yang didefinisikan dalam dokumen, sedangkan shall comply menyatakan kewajiban dalam konteks tersebut.
Pilihan “para pihak wajib mematuhi” dapat sesuai dengan konteks hukum, tetapi penerjemah tetap perlu memeriksa definisi, penggunaan istilah, dan konsistensi keseluruhan dokumen.
6.2. Analisis berdasarkan pendekatan fungsional
Jika teks digunakan dalam kontrak, penerjemah perlu mempertahankan kewajiban yang dinyatakan dalam sumber.
Tujuan penerjemahan tidak membenarkan perubahan kewajiban menjadi sekadar imbauan. Pendekatan fungsional harus berjalan bersama ketepatan makna dan fungsi hukum.
6.3. Analisis berdasarkan teknik penerjemahan
Frasa applicable laws and regulations diterjemahkan menjadi “peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Padanan tersebut merupakan pilihan terminologis yang dapat sesuai dalam konteks tertentu. Namun, penerjemah perlu memeriksa apakah istilah dalam dokumen sumber merujuk pada kategori hukum yang lebih luas atau mempunyai definisi khusus.
Contoh ini menunjukkan bahwa satu keputusan penerjemahan dapat dianalisis melalui lebih dari satu perspektif teori.
7. Penerapan Teori dalam Dokumen Hukum dan Dokumen Resmi
Penerjemahan dokumen hukum dan dokumen resmi memerlukan perhatian terhadap makna, terminologi, struktur, konsistensi, dan tujuan penggunaan dokumen.
Contoh dokumen yang dapat memerlukan penerjemahan antara lain:
- Akta kelahiran dan dokumen kependudukan.
- Ijazah dan transkrip akademik.
- Akta notaris dan perjanjian.
- Kontrak bisnis dan dokumen perusahaan.
- Dokumen perkawinan.
- Putusan pengadilan dan dokumen hukum lainnya.
Teori penerjemahan membantu menjelaskan persoalan yang dapat muncul ketika dokumen tersebut dialihkan ke bahasa lain.
7.1. Ketepatan terminologi
Istilah yang tampak serupa belum tentu memiliki cakupan makna yang sama dalam dua sistem hukum.
Penerjemah perlu memeriksa konteks, definisi istilah, yurisdiksi, dan sumber rujukan yang relevan. Mengganti istilah berdasarkan kemiripan kata saja dapat menghasilkan makna yang menyesatkan.
7.2. Konsistensi nama, tanggal, dan data
Nama orang, nama lembaga, nomor dokumen, tanggal, dan data administratif harus diperiksa secara cermat.
Teori penerjemahan dapat membantu menjelaskan keputusan kebahasaan, tetapi pemeriksaan data tetap memerlukan prosedur kendali mutu yang sistematis.
7.3. Mempertahankan fungsi dokumen
Penerjemahan dokumen resmi tidak sama dengan penulisan ulang atau penyuntingan bebas.
Penerjemah harus memperhatikan fungsi dokumen dan mempertahankan informasi yang relevan dari sumber. Jika ada bagian yang tidak terbaca atau ambigu, masalah tersebut sebaiknya ditangani melalui klarifikasi, bukan dengan menebak isinya.
7.4. Memahami kebutuhan penggunaan
Dokumen yang akan diajukan kepada instansi tertentu mungkin memiliki persyaratan bahasa, format, atau status penerjemahan yang khusus.
Karena itu, pengguna perlu memeriksa persyaratan lembaga penerima sebelum memesan layanan. Istilah “tersumpah”, misalnya, tidak dengan sendirinya menjamin bahwa setiap dokumen akan diterima oleh semua lembaga di setiap negara.
Jika Anda membutuhkan layanan untuk dokumen resmi, pelajari informasi mengenai jasa penerjemah tersumpah dan pastikan persyaratan lembaga tujuan telah diperiksa.
8. Faktor yang Menentukan Kualitas Terjemahan
Kualitas terjemahan tidak ditentukan oleh penggunaan satu teori tertentu. Kualitas merupakan hasil dari sejumlah faktor yang saling berkaitan.
8.1. Ketepatan makna
Informasi, maksud, hubungan logis, dan tingkat kepastian dalam teks sumber harus disampaikan secara tepat.
8.2. Ketepatan terminologi
Istilah perlu sesuai dengan bidang dan konteksnya. Dokumen hukum, kedokteran, teknik, dan pendidikan dapat menggunakan istilah yang berbeda untuk konsep yang tampak serupa.
8.3. Keterbacaan
Hasil terjemahan harus dapat dipahami oleh pembaca sasaran tanpa mengorbankan makna yang terkandung dalam teks sumber.
8.4. Konsistensi
Istilah, nama, singkatan, angka, dan format harus digunakan secara konsisten di seluruh dokumen.
8.5. Pemeriksaan dan revisi
Proses kendali mutu dapat meliputi pemeriksaan kesesuaian dengan sumber, revisi bahasa, verifikasi istilah, pemeriksaan angka dan nama, serta peninjauan format akhir.
8.6. Kompetensi penerjemah
Kompetensi bahasa perlu disertai kemampuan memahami konteks, melakukan riset terminologi, menggunakan referensi, dan mengenali batas pengetahuan sendiri.
Dalam penerjemahan profesional, penggunaan teori sebaiknya mendukung proses kerja yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar menjadi istilah akademis dalam pembahasan.
9. Apakah Semua Teks Harus Diterjemahkan dengan Teori yang Sama?
Tidak. Tidak ada satu teori atau pendekatan yang secara otomatis menjadi pilihan terbaik untuk seluruh jenis teks.
Pendekatan yang tepat bergantung pada tujuan penerjemahan, karakteristik teks sumber, pembaca sasaran, konvensi bidang, serta persyaratan penggunaan dokumen.
Sebagai ilustrasi:
- Teks sastra: perhatian dapat diberikan pada gaya, nuansa, permainan kata, dan unsur budaya.
- Teks jurnalistik: akurasi informasi, konteks, kejelasan, dan keterbacaan menjadi pertimbangan penting.
- Teks akademik: terminologi disiplin, argumentasi, dan konsistensi konsep perlu dijaga.
- Teks pemasaran: tujuan komunikasi dan karakteristik audiens dapat memengaruhi pilihan ungkapan.
- Dokumen hukum: ketepatan kewajiban, hak, definisi, dan terminologi harus dipertahankan secara cermat.
Penerjemah profesional dapat memanfaatkan lebih dari satu pendekatan dalam satu proyek. Yang penting adalah keputusan tersebut mempunyai alasan yang jelas, sesuai dengan tujuan penerjemahan, dan tidak mengubah fakta atau makna yang harus dipertahankan.
10. Kesimpulan
Teori penerjemahan merupakan landasan penting untuk memahami hubungan antara bahasa sumber, bahasa sasaran, konteks, tujuan komunikasi, dan proses pengambilan keputusan penerjemah.
Pemikiran Eugene Nida membantu menjelaskan persoalan kesepadanan. Peter Newmark membahas pendekatan semantis dan komunikatif. J. C. Catford memberikan kerangka linguistik untuk menganalisis pergeseran penerjemahan. Hans J. Vermeer menekankan tujuan penerjemahan melalui teori Skopos. Sementara itu, Molina dan Hurtado Albir menawarkan kerangka untuk menganalisis teknik penerjemahan secara sistematis.
Teori-teori tersebut mempunyai fokus dan keterbatasan masing-masing. Karena itu, penerjemah perlu memahami konsep dasarnya, memeriksa konteks, menggunakan referensi yang dapat dipercaya, dan menerapkan kendali mutu sesuai karakteristik teks.
Dalam praktik profesional, teori penerjemahan bukan pengganti kompetensi bahasa, riset terminologi, atau pemeriksaan dokumen. Teori berfungsi sebagai kerangka untuk mendukung keputusan yang lebih terarah dan dapat dijelaskan.
Bagi siapa pun yang membutuhkan terjemahan dokumen resmi, pemahaman mengenai proses penerjemahan dapat membantu dalam menilai kebutuhan, menyiapkan dokumen sumber, dan memilih layanan yang sesuai.
11. Pertanyaan Umum tentang Teori Penerjemahan
Apa yang dimaksud dengan teori penerjemahan?
Teori penerjemahan adalah kerangka konsep dan prinsip yang digunakan untuk menjelaskan, menganalisis, serta mengevaluasi proses dan hasil penerjemahan.
Siapa saja tokoh penting dalam teori penerjemahan?
Beberapa tokoh yang banyak dibahas dalam studi penerjemahan antara lain Eugene Nida, Peter Newmark, J. C. Catford, Hans J. Vermeer, Gideon Toury, serta Lucía Molina dan Amparo Hurtado Albir. Kontribusi mereka berbeda-beda, mulai dari kesepadanan dan pendekatan fungsional hingga pergeseran linguistik, norma, dan teknik penerjemahan.
Apa perbedaan teori dan teknik penerjemahan?
Teori menyediakan kerangka untuk menjelaskan atau menganalisis penerjemahan. Teknik merupakan cara tertentu yang dapat diidentifikasi pada bagian teks hasil terjemahan, misalnya peminjaman, transposisi, atau modulasi.
Mengapa teori penerjemahan penting bagi penerjemah profesional?
Teori membantu penerjemah menjelaskan pilihan bahasa, mempertimbangkan konteks, menganalisis kesepadanan, dan menyesuaikan pendekatan dengan tujuan teks. Penerapannya perlu didukung kompetensi, riset, dan pemeriksaan mutu.
Apakah teori penerjemahan diperlukan untuk menerjemahkan dokumen resmi?
Pemahaman teori dapat membantu penerjemah menangani makna, terminologi, dan konteks. Namun, penerjemahan dokumen resmi juga memerlukan kompetensi bidang, konsistensi, pemeriksaan data, dan pemahaman terhadap persyaratan lembaga penerima.
Berapa biaya penerjemahan dokumen resmi?
Biaya dapat bergantung pada pasangan bahasa, jenis dan panjang dokumen, tingkat kesulitan, format, tenggat waktu, serta kebutuhan layanan. Untuk mengetahui faktor biaya lebih lanjut, baca informasi mengenai biaya penerjemah tersumpah.
Jika Anda mencari layanan di wilayah ibu kota, Anda juga dapat melihat informasi melalui halaman penerjemah Jakarta.
12. Referensi Akademis
Daftar berikut dapat digunakan sebagai titik awal untuk mempelajari teori penerjemahan lebih mendalam.
- Catford, J. C. (1965). A Linguistic Theory of Translation: An Essay in Applied Linguistics. Oxford University Press.
- Molina, L., & Hurtado Albir, A. (2002). Translation Techniques Revisited: A Dynamic and Functionalist Approach. Meta, 47(4), 498–512. https://doi.org/10.7202/008033ar
- Munday, J., Pinto, S. R., & Blakesley, J. (2026). Introducing Translation Studies: Theories and Applications (6th ed.). Routledge. https://www.routledge.com/link/link/p/book/9781032516561
- Newmark, P. (1988). A Textbook of Translation. Prentice Hall.
- Nida, E. A. (1964). Toward a Science of Translating: With Special Reference to Principles and Procedures Involved in Bible Translating. Brill.
- Toury, G. (1995). Descriptive Translation Studies and Beyond. John Benjamins Publishing Company.
- Vermeer, H. J. (1998). Starting to Unask What Translatology Is About. Target, 10(1), 41–68. https://doi.org/10.1075/target.10.1.03ver
Catatan editorial: Referensi di atas mencakup buku dan artikel akademis yang relevan. Untuk penulisan akademik formal, periksa kembali edisi, tahun, halaman, dan detail bibliografi pada sumber penerbit atau katalog perpustakaan yang digunakan.
